Showing posts with label Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama. Show all posts
Showing posts with label Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama. Show all posts

Sunday, July 3, 2016

Pola Orientasi Moral Anak Taman Kanak-Kanak

Pola Orientasi Moral Anak Taman Kanak-Kanak
               Pada usia Taman Kanak-kanak anak telah memiliki pola moral yang harus dilihat dan dipelajari dalam rangka pengembangan moralitasnya. Orientasi moral diidentifikasikan dengan moral position atau ketetapan hati, yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang terhadap suatu nilai moral yang didasari oleh cognitive motivation aspects dan affective motivation aspects.
               Tahapan perkembangan moral seseorang akan melewati 3 fase, yaitu premoral, conventional dan autonomous. Anak Taman Kanak-kanak secara teori berada pada fase pertama dan kedua. Oleh sebab itu, guru diharapkan memperhatikan kedua karakteristik tahapan perkembangan moral tersebut. Sedangkan menurut Piaget, seorang manusia dalam perkembangan moralnya melalui tahapan heteronomous dan autonomous.
               Seorang guru Taman Kanak-kanak harus memperhatikan tahapan heteronomous karena pada tahapan ini anak masih sangat labil, mudah terbawa arus, dan mudah terpengaruh. Mereka sangat membutuhkan bimbingan, proses latihan, serta pembiasaan yang terus menerus.
               Moralitas anak Taman Kanak-kanak dan perkembangannya dalam tatanan kehidupan dunia mereka dapat dilihat dari sikap dan cara berhubungan dengan orang lain, cara berpakaian dan berpenampilan, serta sikap dan kebiasaan makan. Demikian pula, sikap dan perilaku anak dapat memperlancar hubungannya dengan orang lain.
               Penanaman moral kepada anak usia Taman Kanak-kanak dapat dilakukan dengan berbagai cara dan lebih disarankan untuk menggunakan pendekatan yang bersifat individual, persuasif, demokratis, keteladanan, informal dan agamis.

               Beberapa program yang dapat diterapkan di Taman Kanak-kanak dalam rangka menanamkan dan mengembangkan perilaku moral anak di antaranya dengan bercerita, bermain peran, bernyanyi, mengucapkan sajak, dan program pembiasaan lainnya.

Pengembangan Kemampuan Kepribadian/Moral bagi Anak Taman Kanak-kanak

Pengembangan Kemampuan Kepribadian/Moral bagi Anak Taman Kanak-kanak
               Perkembangan moral dan etika pada diri anak Taman Kanak-kanak dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi anak dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya, mengenalkan dan menghargai perbedaan lingkungan tempat anak hidup, mengenalkan peran gender dengan orang lain, serta mengembangkan kesadaran anak akan hak dan tanggung jawabnya.
               Puncak yang diharapkan dari tujuan pengembangan moral anak Taman Kanak-kanak adalah adanya keterampilan afektif anak itu sendiri, yaitu keterampilan utama untuk merespon orang lain dan pengalaman-pengalaman barunya, serta memunculkan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan teman di sekitarnya.

               Hal yang bersifat subtansial tentang pengembangan moral anak usia Taman Kanak-kanak diantaranya adalah pembentukan karakter, kepribadian, dan perkembangan sosialnya. Guru Taman Kanak-kanak harus menguasai strategi pengembangan emosional, sosial, moral dan agama bagi anak Taman Kanak-kanak. Juga, guru Taman Kanak-kanak perlu untuk senantiasa mengadakan penelitian tentang pengembangan dan inovasi dalam bidang pendidikan bagi anak usia prasekolah.

Tahapan Perkembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak

Tahapan Perkembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak
               Ruang lingkup tahapan perkembangan moral anak di antaranya adalah tahapan kejiwaan manusia dalam menginternalisasikan nilai moral kepada dirinya sendiri, mempersonalisasikan  dan mengembangkannya dalam pembentukan pribadi yang mempunyai prinsip, serta dalam mematuhi, melaksanakan/menentukan pilihan, menyikapi/menilai, atau melakukan tindakan nilai moral.
               Anak berpikir tentang moralitas dalam 2 tahap, yaitu cara heteronomous (4-7 tahun), dimana anak menganggap kedilan dan aturan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia dan cara autonomous ( 10 tahun keatas) di mana anak sudah menyadari bahwa aturan-aturan dan hukum itu diciptakan oleh manusia.
               Perkembangan moral anak usia prasekolah berada pada level yang paling dasar, yaitu penalaran moral prakonvensional. Pada tingkatan ini anak belum menunjukkan internalisasi nilai-nilai moral. Pertimbangan moralnya didasarkan pada akibat-akibat yang bersifat fisik dan hedonistik.

               Ada 4 area perkembangan yang perlu ditingkatkan dalam kegiatan pengembangan atau pendidikan usia prasekolah, yaitu perkembangan fisik, sosial emosional, kognitif dan bahasa.

Pengembangan Moral Anak Indonesia

Pengembangan Moral Anak Indonesia
               Anak Indonesia memiliki perkembangan moral yang tidak jauh berbeda dengan anak di dunia pada umumnya. Faktor-faktor pembentuk munculnya perbedaan moral manusia diantaranya kenyataan hidup, tantangan yang dihadapi, dan harapan yang dicita-cita oleh komunitas manusia itu sendiri.

               Masalah yang paling penting dalam pendidikan moral bagi anak Indonesia adalah bagaimana upaya kita sebagai seorang pendidik Taman Kanak-kanak agar setiap perbedaan yang muncul dapat kita arahkan menjadi suatu materi pendewasaan sikap dan perilaku anak dalam sosialisasinya. Tidak ada salahnya kita sisipkan pendidikan multikultur kepada anak usia Taman Kanak-kanak sesuai dengan tingkat dan pemahaman mereka.

Disonansi Moral

Disonansi Moral
               Hakikat anak sebagai manusia pada umumnya memiliki 3 tenaga dalam yaitu Id, Ego, dan Super Ego yang akan memberikan pengaruh untuk melakukan berbagai kegiatan positif maupun negatif. Sebagai pendidik Taman Kanak-kanak kita harus mencermatinya agar dapat memberikan motivasi untuk mengarahkan pada kegiatan yang positif. Pendidikan akan sangat berarti bagi anak didik jika mampu membuahkan hasil, yaitu adanya perubahan sikap dan perilaku ke arah positif.
               Dalam teori penanaman moral dan etika, dikenal adanya istilah disonansi moral yang berarti gema, atau echo yang ada pada diri manusia yang bersifat melemahkan suara hati dan prinsip-prinsip, serta keyakinan dalam proses pendidikan maupun kehidupan. Lawan dari Disonansi Moral adalah Resonansi, yang justru mengukuhkan/menekankan adanya gema atau getar nilai, norma dan moral yang telah diketahui seseorang dari proses pendidikan sebelumnya. Peranan pendidik dan orangtua dalam hal ini adalah sebagai pengontrol dan pengendali perilaku dan sikap anak didik kita, dalam proses pendidikan yang merekajalani. Peranan Resonansilah yang patut kita tekankan dalam kegiatan pendidikan yang perlu kita desain bersama.

               Diri manusia memiliki struktur psikologis yang bertugas mengalirkan dorongan-dorongan atau energi psikis yang ada. Struktur ini berfungsi sebagai mediator atau dorongan dan perilaku seseorang.

Penyebab Disonansi Moral

Penyebab Disonansi Moral
               Munculnya disonansi pada diri manusia disebabkan adanya beberapa faktor penyebab, seperti disonansi kognitif, disonansi personal, disonansi sosiopolitis dan disonansi pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan pola modernisasi.
               Disonansi kognitif muncul karena adanya rasa lebih tahu segalanya, mengetahui cara/jalan keluarnya jika suatu saat perbuatannya diketahui, merasa lihai dalam memberikan argumentasi. Disonansi personal muncul didorong oleh kebutuhan dan kepentingan diri, ketergesaan, dan keadaan darurat, kekerabatan dan keluarga, keyakinan diri dan mitos, kebiasaan dan budaya, tugas dan jabatan, dan hasrat untuk sukses dan kesenangan. Disonansi sosiopolitis dimungkinkan oleh adanya faktor ideologi, ras dan kesukuan, nasionalisme dan sebagainya.

               Keterbukaan dalam komunikasi, peningkatan mobilitas dan pengenduran integritas manusia, pola hidup dan pola pikir yang rasional, materealisme, individualisme, daya tarik kehidupan sosial, dan peningkatan persaingan telah menjadi masalah kehidupan yang harus kita cermati bersama dalam menyelamatkan anak didik kita masing-masing.

Pendekatan Pengembangan Moral bagi Anak Taman Kanak-kanak

Pendekatan Pengembangan Moral bagi Anak Taman Kanak-kanak
               Setiap tindakan pendidik atau orangtua dalam melakukan suatu kegiatan pendidikan seyogyanya dilandasi oleh keputusan profesional yang diambil berdasarkan informasi dan pengetahuan yang sekurang-kurangnya meliputi 3 hal, yaitu apa yang diketahui tentang proses belajar dan perkembangan anak, apa yang diketahui tentang kekuatan, minat dan kebutuhan setiap individu anak di dalam kelompoknya, serta pengetahuan tentang konteks sosial kultural di mana anak hidup.

               Hal yang perlu menjadi bahan pemahaman para pendidik dan orangtua dalam rangka menentukan pendekatan yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar adalah pengetahuan tentang  teknik membentuk tingkah laku anak. Teknik itu meliputi teknik memahami, mengabaiakan, mengalihkan perhatian, keteladanan, hadiah, perjanjian, membentuk, mengubah lingkungan rumah, memuji, mengajak, menantang, menggunakan akibat yang wajar dan alamiah, sugesti, meminta, peringatan atau isyarat, kerutinan dan kebiasaan, menghasapkan suatu problem, memecahkan perselisihan, menentukan batas-batas aturan, menimpakan hukum, penentuan waktu dan jumlah hukuman, serta melakukan pengendalian secara fisik.

Macam-macam Pendekatan dan Metode untuk Pengembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak

Macam-macam Pendekatan dan Metode untuk Pengembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak
               Untuk pengembangan nilai dan sikap anak dapat dipergunakan metode-metode yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan-kebiasaan yang didasari oleh nilai-nilai agama, dan moralitas agar anak dapat menjalani hidup sesuai dengan norma yang dianut masyarakat. Dalam menentukan suatu pendekatan dan metode yang akan dipergunakan pada program kegiatan anak, pendidik perlu mempunyai alasan yang kuat dan faktor-faktor yang mendukung seperti karakteristik tujuan kegiatan dan karakteristik anak yang diajar.

               Metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia Taman Kanak-kanak untuk kepentingan pengembangan dan pembelajaran moral dan agama anak diantaranya, bercerita, karya wisata, bernyanyi, mengucapkan sajak, dan sebagainya. Ada beberapa macam cara bercarita yang dapat dipergunakan antara lain pendidik membacakan langsung dari buku, menggunakan ilustrasi buku gambar, menggunakan papan flannel, menggunakan boneka, dan bermain peran dalam suatu cerita.

Materi Inti dan Contoh Penyusunan Perencanaan Penanaman dan Pengembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak

Materi Inti dan Contoh Penyusunan Perencanaan Penanaman dan Pengembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak
               Program pembentukan perilaku merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan ada dalam kehidupan sehari-hari anak di Taman Kanak-kanak. Melalui program ini diharapkan anak dapat melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan yang dimaksud meliputi pembentukan moral agama, pancasila, perasaan/emosi, kemampuan bermasyarakat dan disiplin.
               Tujuan dari program pembentukan perilaku adalah untuk mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang didasari oleh nilai-nilai moral agama dan pancasila.

               Kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai pada aspek pengembangan moral dan nilai-nilai agama adalah kemampuan melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan tuhan dan mencintai sesama.

Penyusunan Strategi dalam Pengembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak

Penyusunan Strategi dalam Pengembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak
               Pengembangan dan pendidikan moral bagi anak Taman Kanak-kanak berdasarkan GBPKB TK, kurikulum berbasis kompetensi, dan menu pembelajaran anak usia dini memiliki substansi ruang lingkup kajian sebagai berikut
               1.            latihan hidup tertib dan teratur
               2.            aturan dalam melatih sosialisasi
               3.            menanamkan sikap tenggang rasa dan toleransi
               4.            merangsang sikap berani, banga dan bersyukur, bertanggungjawab
               5.            latihan pengendalian emosi

               6.            melatih anak untuk dapat menjaga diri sendiri

Alat Penilaian dalam Pengembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak

Alat Penilaian dalam Pengembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak
               Penilaian bertujuan untuk mengetahui ketercapaian kemampuan yang telah ditetapkan dalam GBPKBTK. Penilaian hasil belajar anak didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar anak didik secara berkesinambungan.
               Prinsip-prinsip penilaian adalah menyeluruh, berkesinambungan, berorientasi pada proses dan tujuan, objektif, mendidik, kebermaknaan, dan kesesuaian.
               Pada saat kita akan melakukan penilaian dalam berbagai hal termasuk didalamnya menilai perkembangan moral, kita perlu menentukan alat penilaian yang tepat dengan kondisi anak yang sesungguhnya. Alat pendukung tersebut adalah:
               1.            pengamatan dan pencatatan anekdot

2.            pemberian tugas meliputi tes perbuatan dan pertanyaan lisan sebagai latihan mengungkapkan gagasan dan keberanian berbicara.

Macam-macam Strategi Perencanaan Penilaian dalam Pengembangan Moral Anak Usia Taman Kanak-kanak

Macam-macam Strategi Perencanaan Penilaian dalam Pengembangan Moral Anak Usia Taman Kanak-kanak
               Untuk mengekspresikan proses kegiatan belajar, guru perlu melakukan penilaian atau evaluasi. Penilaian perlu dilaksanakan agar guru TK mendapat umpan balik tentang kualitas keberhasilan dalam kegiatan anak yang diarahkan untuk pengembangan perilaku dan moralitas secara keseluruhan.

               Penilaian yang dilakukan guru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar, baik yang menggunakan metode bercakap-cakap, bercerita, maupun bermain peran. Tanpa adanya penilaian, tidak dapat diketahui secara rinci apakah tujuan pengembangan aspek perilaku dan moralitas anak dapat dicapai secara maksimal. Hasil penilaian kualitas keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran tesebut, memberikan masukan kepada guru untuk membuat keputusan pembelajaran, dalam rangka meningkatkan mutu pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan metode tersebut di masa yang akan datang.

Esensi Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan Anak Taman Kanak-kanak

Esensi Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan Anak Taman Kanak-kanak
               TK merupakan lembaga pendidikan yang pertama, yang keberadaannya sangat strategis untuk menumbuhkan jiwa keagamaan kepada anak-anak, agar mereka menjadi orang-orang yang kuat, terbiasa, dan peduli terhadap segala aturan agama yang diajarkan kepadanya.
               Pendidikan niali-nilai keagamaan merupakan fondasi yang kokoh dan sangat penting keberadaannya, dan jika hal itu sudah tertanam serta terpatri dalam setiap insan sejak dini, hal ini merupakan awal yang baik bagi pendidikan anak bangsa untuk menjalani jenjang pendidikan selanjutnya.

               Bangsa ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Nilai nilai keagamaan ini pun dikehendaki agar menjadi motivasi spiritual bagi bangsa ini dalam rangka melaksanakan sila-sila pertama dan sila berikutnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, pendidikan yang merupakan kunci dalam membentuk kehidupan manusia ke arah peradabannya menjadi sesuatu yang sangat strategis dalam mencapai tujuan itu semua.

Potret, Hakikat, dan Target Anak Taman Kanak-kanak dalam Belajar Nilai-nilai Keagamaan

Potret, Hakikat, dan Target Anak Taman Kanak-kanak dalam Belajar Nilai-nilai Keagamaan
               Setiap potensi apapun yang muncul dari anak seyogianya kita kembangkan dengan jelas dan terprogram dengan baik. Tidak hanya perkembangan bahasa, daya pikir, keterampilan dan jasmani saja, namun aspek keagamaan pun harus menjadi salah satu pokok pengembangan dan pembinaan yang harus dikelola, diprogram dan diarahkan dengan sempurna.
               Kaitannya dengan hakikat belajar anak TK pada nilai-nilai keagamaan, seharusnya kita pahami bahwa hal itu harus berorientasi pada fungsi pendidikan di TK itu sendiri, yaitu sebagai fungsi adaptasi, fungsi pengembangan dan fungsi bermain. Penyelenggaraannya pun harus sesuai dengan 6 prinsip, yaitu prinsip pengamatan, peragaan, bermain sambil belajar, otoaktivitas, kebebasan dan prinsip keterkaitan dan keterpaduan.

               Target dalam mengembangkan nilai-nilai keagamaan kepada anak TK adalah diharapkan mampu mewarnai pertumbuhan dan perkembangan dari diri mereka. Sehingga diharapkan akan muncul suatu dampak positif yang berkembang meliputi fisik, akal pikiran, akhlak, perasaan kejiwaan, estetika, dan kemampuan sosialisasinya diwarnai dengan nilai-nilai keagamaan.

Friday, July 1, 2016

Ruang Lingkup Pengembangan Nilai-nilai Agama bagi Anak Taman Kanak-kanak

Ruang Lingkup Pengembangan Nilai-nilai Agama bagi Anak Taman Kanak-kanak
               Berdasarkan GBPKB TK, pengembangan nilai-nilai agama untuk anak TK berkisar pada kegiatan kehidupan sehari-hari. Secara khusus penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak TK adalah meletakkan dasar-dasar keimanan, kepribadian atau budi pekerti yang terpuji dan kebiasaan ibadah sesuai dengan kemampuan anak.
               Ada 3 aspek yang harus diperhatikan dalam menetapkan tujuan penanaman nilai-nilai keagamaan kepada anak TK, yaitu aspek usia, aspek fisik, dan aspek psikis anak.
               Rasa keagamaan dan nilai nilai keagamaan akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan psikis maupun fisik anak. Perhatian anak terhadap nilai-nilai dan pemahaman agama akan muncul manakala mereka sering melihat dan terlibat dalam upacara-upacara keagamaan, dekorasi dan keindahan rumah ibadah, rutinitas, ritual orangtua dan lingkungan sekitar ketika menjalankan peribadatan.

               Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi  perkembangan nilai-nilai keagamaan pada diri anak, yaitu faktor pembawaan, dan faktor lingkungan.

Sifat-sifat Pemahaman Anak Taman Kanak-kanak pada Nilai Keagamaan

Sifat-sifat Pemahaman Anak Taman Kanak-kanak pada Nilai Keagamaan
               Sifat-sifat pemahaman anak usia TK terhadap nilai-nilai keagamaan pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di antaranya:
1.            pemahaman dan kemampuan anak dalam mempelajari nilai-nilai agama sering menampilkan suatu hal yang tidak serius. Mereka melakukan kegiatan ibadah pun dengan sikap dan sifat dasar yang kekanak-kanakan. Tidak mampu memahami konsep agama dengan mendalam.
2.            dalam mempelajari nilai-nilai agama, anak usia TK terkadang belum mampu bersikap dan bertindak konsisten. Anak lebih terfokus pada hal-hal yang menguntungkan dirinya.
3.            anak akan mengalami salah pengertian dalam memahami suatu ajaran agama yang banyak bersifat abstrak.
4.            kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan nilai-nilai agama pada diri mereka dengan cara memperkenalkan istilah, bacaan, dan ungkapan yang bersifat agamis. Seperti memberi latihan menghafal, mengucapkan, memperagakan, dan sebagainya.
5.            anak banyak belajar dari apa yang mereka lihat secara langsung. Mereka banyak meniru dari apa yang pernah dilihatnya sebagai sebuah pengalaman belajar.

               Dengan demikian guru dan orangtua harus memperhatikan sifat-sifat tersebut untuk kepentingan menentukan pendekatan pembelajaran yang tepat buat anak. Kita harus tetap melakukan pendekatan progresif dan penyadaran jiwa dan kepribadian mereka.

Pokok-pokok Materi Pengembangan Nilai Keagamaan pada Anak Taman Kanak-kanak

Pokok-pokok Materi Pengembangan Nilai Keagamaan pada Anak Taman Kanak-kanak
               Dalam proses pembinaan dan pengembangan nilai-nilai agama bagi anak usia TK, muatan materi pembelajarannya harus bersifat:
1.            materi pembelajaran harus bersifat terapan, yang berkaitan dengan kegiatan rutin anak sehari-hari dan sangat dibutuhkan untuk kepentingan aktivitas anak, serta yang dapat dilakukan anak dalam kehidupannya.
2.            pengajaran materi dan materi yang dipilih diupayakan mampu membuat anak senang, menikmati dan mau mengikuti dengan antusias
3.            materi yang disajikan dapat dipraktekkan sesuai dengan kemampuan fisik dan karakter lahiriah anak
               Ada beberapa prinsip dasar dalam rangka menyampaikan materi pengembangan nilai-nilai agama bagi anak TK di antaranya:
               1.            penekanan pada aktifitas anak sehari-hari
               2.            pentingnya keteladanan dari lingkungan dan orangtua atau keluarga anak
               3.            kesesuaian dengan kurikulum spiral
               4.            prinsip DAP
               5.            prinsip psikologi perkembangan anak

               6.            prinsip monitoring yang rutin

Setrategi Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan di Taman Kanak-kanak

Setrategi Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan di Taman Kanak-kanak
               Dalam rangka mencapai keberhasilan pembentukan kepribadian anak agar mampu terwarnai dengan nilai-nilai agama maka perlu didukung oleh unsur keteladanan dari orangtua dan guru. Untuk tujuan tersebut dalam pelaksanaannya guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara bertahap dan menyusun program kegiatan seperti program kegiatan rutinitas, program kegiatan terintegrasi dan program kegiatan khusus.

               Kegiatan rutinitas merupakan kegiatan harian yang dilaksanakan secara terus menerus namun terprogram dengan pasti. Kegiatan terintegrasi adalah kegiatan pengembangan materi nilai-nilai agama yang disisipkan melalui pengembangan bidang kemampuan dasar. Sedangkan kegiatan khusus merupakan program kegiatan yang pelaksanaannya tidak dimasukkan atau tidak harus dikaitkan dengan pengembangan bidang kemampuan dasar lainnya, sehingga membutuhkan waktu dan penanganan khusus.

Perencanaan Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan pada Anak Taman Kanak-kanak

Perencanaan Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan pada Anak Taman Kanak-kanak
               Dalam pengembangan nilai-nilai agama, desain perencanaan menjadi sesuatu yang sangat esensial. Perencanaan dapat diartikan sebagai sesuatu aktivitas pemikiran, perkiraan penyusunan suatu rancangan kegiatan yang menggambarkan hal-hal yang harus dikerjakan, dan cara mengerjakannya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
               Perencanaan dapat dimasukkan melalui pembuatan SKH dan SKM dengan pendekatan terpadu, mengikuti sajian materi yang akan disampaikan dengan menetapkan pola kurikulum spiral.

               SKM merupakan langkah pertama dalam membuat rencana pembelajaran di TK. Untuk perencanaan harian guru diharapkan membuat SKH yang merupakan penjabaran dari SKM. Satuan kegiatan harian harus mengandung unsur kegiatan, waktu, kemampuan, media, metode dan penilaian. Perencanaan kegiatan harian terdiri dari kegiatan pembukaan, kegiatan inti, kegiatan makan dan istirahat, dan kegiatan penutup.

Pendekatan Inovatif untuk Pengembangan Nilai-nilai Agama bagi Anak Taman Kanak-kanak

Pendekatan Inovatif untuk Pengembangan Nilai-nilai Agama bagi Anak Taman Kanak-kanak
               Pengembangan nilai-nilai agama di TK berkaitan erat dengan pembentukan perilaku manusia, sikap, dan keyakinan. Oleh karena itu, diperlukan berbagai inovasi pengembangan yang komprehensif sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak didik. Adapun yang melatarbelakangi esensi inovasi dalam bidang pengembangan pembelajaran adalah munculnya berbagai kendala dan kelemahan serta kekuranglengkapan yang ada di lingkungan penyelenggaraan pendidikan di TK.
               Untuk melaksanakan program pembelajaran nilai-nilai agama tersebut guru harus mempelajari berbagai pendekatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak didik, menyiapkan kurikulum yang komprehensif, dan adanya kesinambungan antar satu program pengembangan dengan program lainnya.

               Alternatif inovasi dalam rangka meningkatkan efektivitas kegiatan belajar mengajar bagi peserta didik adalah perlu adanya kurikulum terpadu, pendekatan pembelajaran terpadu, dan hari terpadu.